Kamis, 29 Desember 2011

Konsisten

Siang-siang, di luar panas, tapi di ruang kantor saya suhunya hampir beku. Keadaan yang, menurut saya, tidak konsisten. Sebelah beku, sebelah panas terik, bukan suatu yang aneh di saat keadaan dunia sudah seperti sekarang, semuanya bisa diusahakan dilakukan. Bicara tentang konsisten, saya jadi ingat kejadian tadi malam, saat saya dan Jeruk pulang kantor. Di dalam sebuah “Mercedes Benz 40 bangku” jurusan terminal terkenal di Jakarta, saya bertemu dengan seorang sahabat lama, dia di sana bersama sang pacar, teman SMA saya juga.
Sepanjang perjalanan selama 1,5 jam itu, banyak kata yang bergulir dari kami masing-masing, mulai dari gossip teman kami yg sudah mengakhiri hubungannya dengan sang pacar, hingga rencana masa depan bagi kaum lajang. Saat topic pembicaraan bergulir menuju perkantoran, saya cukup terkesima, dia masih bekerja di tempat yang sama seperti yang dia ceritakan saat kami terakhir kali bertemu, mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu. Hebat! Itu kata pertama yang muncul dalam pikiran saya sewaktu mendengar ceritanya. Mungkin lingkungan pekerjaan yang nyaman, rekan kerja yang menyenangkan, pekerjaan yang menantang, fasilitas lengkap yang disediakan, atau pendapatan yang memadai, adalah beberapa alasan yang mungkin mempertahankan sahabat saya itu di tempat kerjanya yang sekarang.
Saya dan Jeruk turun lebih dulu, karena 1 dan lain hal. Kami berpisah tapi pikiran saya masih berjalan mengingat-ingat pembicaraan kami tadi. Sambil berjalan, Jeruk menanyakan perkantoran sang sahabat. Sama seperti saya, Jeruk salut dengan konsistensi sahabat saya tersebut.
Pagi ini saya berangkat ke kantor tidak naik “Mercedes Benz 40 bangku” dengan jurusan yang biasa saya tumpangi. Jeruk dan saya mencoba jalur lainnya. Sepanjang perjalanan, saya senang karena di jalanan tidak terlalu banyak kuda besi yang melintas, mungkin karena sudah menjelang akhir tahun, banyak yang cuti atau “enggan” masuk kantor. Tapi saya kaget, karena kendaraan tersebut tidak mengikuti jalur yang ada, dia keluar jalur. Oh…NOOO...!!! Gawat! Saya mulai khawatir akan macet dan terlambat. Untung, jalanan lengang, amaaaannn….pikir saya. Saya hanya tersenyum sambil melirik ke arah Jeruk yang wajahnya sudah kenceng karena khawatir. Ternyata, kekhawatiran itu tidak bertahan lama, kami kembali masuk ke jalurnya. Amaaaaannn…..
Kami turun di tempat yang sama, karena kendaraan ini tidak melewati tempat saya bertugas hari ini. Jeruk naik kuda besi yang lain dan saya ingin mencoba jembatan penyeberangan yang berjalur panjang. Ternyata jembatan itu hanya diperuntukan bagii pengguna kendaraan umum “3500 kemana saja”, boleh sih lewat, bayar 3500, hahahahaha…. Saya menuruni jembatan di sisi lain yang memang diperuntukan bagi masyarakat umum. Berjalan melewati sebuah mall, kampus orange, dan gedung perkantoran, hingga akhirnya sampai di jembatan lain umtuk tiba dimana saya bertugas hari ini.
Sepanjang perjalanan, saya ingat 1 kata dari Jeruk semalam, “konsisten”. Teman saya yang konsisten, dapat reward dari konsistensinya, gaji yg sudah cukup layak, jatah cuti, jenjang yang sudah didapat, dan banyak lagi. Sedangkan saya, sebuah bentuk ketidak-konsistenan, barada di jalur yang tidak sesuai harapan. Ada hal yang menjadi akibat dari setiap pilihan untuk menjadi konsisten atau tidak.
Namun, saat saya berpikir kembali mengenai konsisten, saya melihat mengapa seseorang konsisten atau memilih untuk tidak konsisten. Kembali pada sahabat saya yang konsisten dengan pekerjaannya, ia nyaman dengan atmosfer kantornya, rekan kerja, pekerjaan yang menjadi bagiannya, ataupun gaji yang ditawarkan. Hal-hal tersebut mejadi poin penguat dari tingkah laku konsistennya. Sedangkan saya, dimana saya tidak konsisten menggunakan “Mercedes Benz 40 bangku” di jalur yang biasa saya naiki, karena fisik kendaraan yang sudah tua, ketidak-dinginan alat yang katanya pendingin, hingga bangku yang sempit. Hal tersebut menjadi penguat perilaku saya untuk tidak konsisten.
Dari kisah itu, saya bisa belajar, semua manusia butuh penguat dari perilaku yang dilakukan. Manusia butuh diberikan reward, supaya tingkah laku yang muncul bertahan lama. Begitu juga dengan perilaku konsisten atau nggak, butuh reward untuk bisa terus muncul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar