Selasa, 08 Mei 2012

Bersukacitalah dengan Benar


Hari minggu ini tema khotbah digereja agak menggelitik hati saya. Sebenarnya sederhana saja, bersukacita dalam segala hal dalam Tuhan. Tapi yang membuat saya tergelitik adalah isi khotbah yang disampaikan oleh seorang pendeta tadi. Beliau berkata bahwa orangtua sebaiknya tidak perlu menceritakan keburukan dari ayah, kakek-nenek, om-tante, atau siapapun yang menjadi saudara si anak. Hal itu dapat membuat si anak tidak sukacita bila bertemu dengan mereka. Yang terlintas dalam pikiran saya saat itu adalah bagaimana bila orang yang disebut saudara itu tidak memiliki kebaikan yang bisa diceritakan oleh orangtua? Apakah lantas si anak tidak perlu mengetahui latar belakang “saudaranya”? Bagaimana caranya? Apakah si anak harus mencari tahu sendiri? Entahlah, saya sendiri agak bingung tentang hal tersebut.

Beliau juga menceritakan ketika istrinya sakit, ia harus merawat ketujuh anaknya yang masih kecil sambil membereskan rumah dan memasak. Suatu ketika, ia memasak sambil menggendong salah seorang anaknya. Saat ia sedang menggoreng ikan di dapur, ia mendengar anaknya yang lain menangis di luar rumah. bergegaslah ia keluar untuk melihat sang anak. Sepeninggalannya, ikan yang telah digoreng pun dimakan oleh kucing. Sewaktu ia kembali ke dapur, dilihatnya kucing sedang memakan ikan yang baru saja digorengnya. Dengan sekuat tenaga, beliau mengambil sodet penggorengan dan memukul si kucing nakal. Ternyata pukulan tidak kena, si kucing sempat menghindar dan lari. Namun, sodet penggorengan tersebut patah dan menumpahkan wajan berisi minyak ke lantai. Bukannya menggoreng ikan, malah harus membereskan dapur yang berantakan. Sambil membersihkan dapur, beliau sedih sampai menangis.

Saat menangis, beliau berpikir ternyata pekerjaan seorang istri, seorang ibu, itu berat. Sekalipun kalau dilihat, itu adalah pekerjaan yang mudah dan sederhana. Sampai-sampai ia berpikir  untuk memberikan sukacita pada istrinya. Ketika sang istri sudah sembuh, beliau mencoba untuk bangun jam 4 pagi (karena istrinya selalu bangun jam 4 sampai sekarang) untuk membuatkan kopi baginya dan istrinya, serta memasak air hangat untuk mandi ketujuh anaknya. Sang istri yang melihat hal tersebut sangat senang dan mengucapkan terimakasih pada pendeta itu.

Semakin saya dengarkan khotbah pendeta itu, saya jadi berpikiran kalau sukacita itu akan hadir ketika kita saling memahami, kita mampu memposisikan diri pada orang. Misalnya, istri akan memberikan sukacita pada suaminya ketika ia dapat merasakan bagaimana lelahnya bekerja dari pagi hingga malam atau suami akan memberikan sukacita pada istrinya apabila ia memahami rasanya kelelahan berjuang membersihkan rumah sambil merawat anak-anak.

Sama memahaminya antara mertua dan menantu. Bukanlah hal yang aneh dalam suatu rumah tangga untuk saling bekerja sama dan meminta pertolongan. Suami minta pertolongan istri dan istri meminta pertolongan suami. Mertua yang bijak dan penuh sukacita, bukanlah mertua yang membiarkan anaknya bersantai-santai dan pasangannya beberes rumah sendirian. Misalnya, mertua marah pada menantu perempuannya karena meminta tolong bantu bersihkan rumah, sampai-sampai sang mertua mengatakan bahwa menantunya adalah menantu yang tidak benar. Apakah anak perempuannya sudah benar menjadi anak perempuan? Apakah anak perempuannya sudah benar ketika menjadi menantu? Jangan-jangan lebih parah dari menantunya.

Dalam keluarga, terutama saudara kakak-adik, akan timbul iri atau tidak senang dengan saudaranya yang lain ketika orangtua mulai lebih menyayangi 1 anak daripada yang lain. hal ini membuat tidak adanya sukacita dalam hubungan kakak-adik, bahkan tidak menutup kemungkinan, ketidaksukacitaan dalam hunungan orangtua dan anaknya. Maka, ketika menjadi orangtua, terutama dengan berkat anak yang banyak, harus bisa menyayangi semua anak-anaknya, bukan lebih di satu anak.

Isi khotbah yang menarik buat saya, mungkin karena pendeta ini telah berpengalaman berkhotbah di banyak tempat dan usia beliau yang tidak muda lagi, membuat isi khotbah bisa berkembang luas. Saya tidak menyangka dengan tema “Bersukacita di dalam Tuhan”, beliau bisa memasukannya melalui pengalaman dan contoh kesharian seperti itu.

Khotbah yang menarik, semoga bukan hanya ‘kemenarikan’ yang membuat para jemaat tertawa sepanjang khotbah, tetapi biarlah maksud dari firman Tuhan hari ini bisa masuk, tertanam, dan selalu diingat oleh semua jemaat. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar