Hari
minggu ini tema khotbah digereja agak menggelitik hati saya. Sebenarnya
sederhana saja, bersukacita dalam segala hal dalam Tuhan. Tapi yang membuat
saya tergelitik adalah isi khotbah yang disampaikan oleh seorang pendeta tadi.
Beliau berkata bahwa orangtua sebaiknya tidak perlu menceritakan keburukan dari
ayah, kakek-nenek, om-tante, atau siapapun yang menjadi saudara si anak. Hal
itu dapat membuat si anak tidak sukacita bila bertemu dengan mereka. Yang
terlintas dalam pikiran saya saat itu adalah bagaimana bila orang yang disebut
saudara itu tidak memiliki kebaikan yang bisa diceritakan oleh orangtua? Apakah
lantas si anak tidak perlu mengetahui latar belakang “saudaranya”? Bagaimana
caranya? Apakah si anak harus mencari tahu sendiri? Entahlah, saya sendiri agak
bingung tentang hal tersebut.
Beliau
juga menceritakan ketika istrinya sakit, ia harus merawat ketujuh anaknya yang
masih kecil sambil membereskan rumah dan memasak. Suatu ketika, ia memasak
sambil menggendong salah seorang anaknya. Saat ia sedang menggoreng ikan di
dapur, ia mendengar anaknya yang lain menangis di luar rumah. bergegaslah ia
keluar untuk melihat sang anak. Sepeninggalannya, ikan yang telah digoreng pun
dimakan oleh kucing. Sewaktu ia kembali ke dapur, dilihatnya kucing sedang
memakan ikan yang baru saja digorengnya. Dengan sekuat tenaga, beliau mengambil
sodet penggorengan dan memukul si kucing nakal. Ternyata pukulan tidak kena, si
kucing sempat menghindar dan lari. Namun, sodet penggorengan tersebut patah dan
menumpahkan wajan berisi minyak ke lantai. Bukannya menggoreng ikan, malah
harus membereskan dapur yang berantakan. Sambil membersihkan dapur, beliau
sedih sampai menangis.
Saat
menangis, beliau berpikir ternyata pekerjaan seorang istri, seorang ibu, itu
berat. Sekalipun kalau dilihat, itu adalah pekerjaan yang mudah dan sederhana.
Sampai-sampai ia berpikir untuk
memberikan sukacita pada istrinya. Ketika sang istri sudah sembuh, beliau
mencoba untuk bangun jam 4 pagi (karena istrinya selalu bangun jam 4 sampai
sekarang) untuk membuatkan kopi baginya dan istrinya, serta memasak air hangat
untuk mandi ketujuh anaknya. Sang istri yang melihat hal tersebut sangat senang
dan mengucapkan terimakasih pada pendeta itu.
Semakin
saya dengarkan khotbah pendeta itu, saya jadi berpikiran kalau sukacita itu
akan hadir ketika kita saling memahami, kita mampu memposisikan diri pada
orang. Misalnya, istri akan memberikan sukacita pada suaminya ketika ia dapat
merasakan bagaimana lelahnya bekerja dari pagi hingga malam atau suami akan
memberikan sukacita pada istrinya apabila ia memahami rasanya kelelahan
berjuang membersihkan rumah sambil merawat anak-anak.
Sama
memahaminya antara mertua dan menantu. Bukanlah hal yang aneh dalam suatu rumah
tangga untuk saling bekerja sama dan meminta pertolongan. Suami minta
pertolongan istri dan istri meminta pertolongan suami. Mertua yang bijak dan
penuh sukacita, bukanlah mertua yang membiarkan anaknya bersantai-santai dan
pasangannya beberes rumah sendirian.
Misalnya, mertua marah pada menantu perempuannya karena meminta tolong bantu
bersihkan rumah, sampai-sampai sang mertua mengatakan bahwa menantunya adalah
menantu yang tidak benar. Apakah anak perempuannya sudah benar menjadi anak
perempuan? Apakah anak perempuannya sudah benar ketika menjadi menantu?
Jangan-jangan lebih parah dari menantunya.
Dalam
keluarga, terutama saudara kakak-adik, akan timbul iri atau tidak senang dengan
saudaranya yang lain ketika orangtua mulai lebih menyayangi 1 anak daripada
yang lain. hal ini membuat tidak adanya sukacita dalam hubungan kakak-adik,
bahkan tidak menutup kemungkinan, ketidaksukacitaan dalam hunungan orangtua dan
anaknya. Maka, ketika menjadi orangtua, terutama dengan berkat anak yang
banyak, harus bisa menyayangi semua anak-anaknya, bukan lebih di satu anak.
Isi
khotbah yang menarik buat saya, mungkin karena pendeta ini telah berpengalaman
berkhotbah di banyak tempat dan usia beliau yang tidak muda lagi, membuat isi
khotbah bisa berkembang luas. Saya tidak menyangka dengan tema “Bersukacita di
dalam Tuhan”, beliau bisa memasukannya melalui pengalaman dan contoh kesharian
seperti itu.
Khotbah
yang menarik, semoga bukan hanya ‘kemenarikan’ yang membuat para jemaat tertawa
sepanjang khotbah, tetapi biarlah maksud dari firman Tuhan hari ini bisa masuk,
tertanam, dan selalu diingat oleh semua jemaat. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar