Selasa, 08 Mei 2012

Nasi 1/2 , Gorengan 2, Perkedel 1, Sayur Tumis = Rp 3,500,-



Setiap orang yang baca judul di atas pasti sekilas akan bertanya-tanya tentng kebenarannya, kebenaran dari kalimat itu, kebenaran dari porsi makanannya, kebenaran dari higienitas makanannya, bahkan hingga bahan baku dari makanan tersebut. Mayoritas orang tertarik dengan segala sesuatu yang dijual dengan harga murah, termasuk saya. Tapi, kalau harganya terlalu murah pun saya akan pikir-pikir dulu untuk membelinya. Akan lebih banyak pertimbangan dalam membeli makanan di tempat itu.

Tulisan ini saya beri judul seperti di atas karena menurut saya, itulah kalimat awal dari cerita jeruk mengenai kehidupan kosan dulu sewaktu di Bandung. Semasa kuliah, jeruk kos di Bandung, lokasinya di sekitar kampus Unpad-Adipati Ukur. Sekitaran kosan pasti mudah ditemui warung makan, bila sebutan kita di Jakarta dinamakan warteg, maka di Bandung disebut kantin. Jeruk bercerita ada sebuah kantin yang cukup terkenal, bukan karena penjualnya yang cantik atau bentuk fisik kantin itu yang megah, tapi karena harga yang murah ditambah rasa makanan yang enak.

Kantin tersebut awalnya adalah sebuah rumah biasa, namun diubah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kantin. Ada ruang tamu yang diubah menjadi ruang makan pelanggan, ruang tengah dibagi 2, sebelah untuk kegiatan memasak beserta mencuci peralatan, sedangkan di sisi lain adalah tempat beristirahat si Ibu, sang penjual. Jujur, saya tidak tahu pasti tempat itu seperti apa, saya dapat menjabarkan bentuk rumah itu berdasarkan penjelasan dari Jeruk, sebagai pelanggan tetap.

Suatu siang, Jeruk makan siang bersama seorang teman di kantin itu. Saat sedang makan, datang seorang tukang pos membawa kotak bingkisan. Ibu penjual yang diberi bingkisan bingung, “Sopo yo?” (siapa ya? Red.) Ketika dibuka, isi bingkisan itu adalah terasi, beberapa jenis oleh-oleh dari daerah Kalimantan, ditambah sepucuk surat. Isi surat itu yang menarik buat saya, isi detailnya apa, saya tidak tahu, inti dari surat itu adalah ada seorang anak mahsiswa yang sering makan di kantin si Ibu dan mengambil makanan tapi tidak dihitung dan sekarang sudah bekerja di Kalimantan. Bingkisan itu menjadi sebentuk permohonan maaf pada si Ibu.

Kenapa bisa nggak ikut dihitung? Sistem makan di kantin ini adalah ambil-makan-bayar. Si Ibu akan menanyakan apa yang dimakan, pelanggan akan menyebutkan lauk apa saja yang dimakan. Sekalipun harganya murah, masih saja ada anak yang tidak jujur menjawab. Itu memang pencurian, tapi itulah keadaan anak kos, tidak selalu ada uang, tidak selalu dapat kiriman tepat waktu, atau tidak selalu dapat uang kiriman penuh.

Di waktu lain, si Ibu kedatangan tamu, seorang mahasiswa yang sudah berhasil. Dia datang mengunjungi si Ibu, mengaku dosa, dan memberikan hadiah sebagai ganti kenakalan yang pernah dia lakukan pada si Ibu sewaktu menjadi mahasiswa. Si Ibu hanya tersenyum dan berkata, “ndak opo-opo, sing penting kamu sudah kerja tho”. Respon yang manis dan ikhlas.

Rp 3,500,- yang bukan hanya menjadi makan siang murah di saat persediaan uang tinggal sedikit di akhir bulan, tapi menjadi sebuah nilai yang berarti, sebuah pelajaran dalam hidup untuk ikhlas. Dari Rp 3,500,- kita bisa belajar untuk ikhlas akan semua hal, belajar untuk percaya pada orang lain. Rp 3,500,- yang kita pikir sepele, ternyata mengajarkan kita elemen kehidupan. Si Ibu yang “nerimo”, bukan berarti penjual yang tidak butuh uang, tapi seorang ibu yang ikhlas menjalani hidupnya untuk berjualan makanan bagi pelanggannya yang mayoritas anak mahasiswa.

Keikhlasan, positif thinking, “nerimo”, atau apapun itu namanya buat hidup jadi ringan, bahkan berbuah manis. Seperti kata Jeruk-ku di akhir ceritanya, “setiap orang yang pernah ngelakuin hal itu (nggak ngaku jumlah makanannya, red) kalo udah berhasil, nggak akan lupa sama Ibu itu” Terbukti, kiriman terasi dan oleh-oleh dari Kalimantan serta ucapan terimakasih, pengakuan dosa, dan bingkisan adalah buah manis yang didapatkan si Ibu dari keikhlasannya.

Keadaan para mahasiswa yang berbohong tentang jumlah makanannya, itu memang sebuah kejahatan, pencurian, tapi dilihat dari sisi lain, itu memang karena keadaan. Keadaan keuangan di akhir bulan yang sudah tiris, jumlah uang kiriman yang pas-pasan, ataupun uang kiriman yang belum juga sampai. Disini kita bisa belajar, setiap hal tidak hanya dapat dilihat dari 1 sisi saja, tapi ada sisi lain yang membuat kita belajar tentang makna kehidupan. Belajar bahwa pencurian itu adalah kejahatan, tapi bukan berarti selamanya kejahatan itu jahat. Seperti pengakuan anak mahasiswa berhasil yang datang kembali ke Ibu kantin tadi, “Maaf, Bu, saya dulu sering makan makanan ibu tapi nggak ngaku, bukan niat saya, Bu, tapi saya nggak punya uang waktu itu” Klise, tapi itulah yang terjadi. Suatu hal tidak selamanya hitam atau putih, terkadang kita bisa temukan banyak warna di dalamnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar