Setiap orang yang baca judul di atas pasti sekilas akan
bertanya-tanya tentng kebenarannya, kebenaran dari kalimat itu, kebenaran dari
porsi makanannya, kebenaran dari higienitas makanannya, bahkan hingga bahan
baku dari makanan tersebut. Mayoritas orang tertarik dengan segala sesuatu yang
dijual dengan harga murah, termasuk saya. Tapi, kalau harganya terlalu murah
pun saya akan pikir-pikir dulu untuk membelinya. Akan lebih banyak pertimbangan
dalam membeli makanan di tempat itu.
Tulisan ini saya beri judul seperti di atas karena menurut
saya, itulah kalimat awal dari cerita jeruk mengenai kehidupan kosan dulu
sewaktu di Bandung. Semasa kuliah, jeruk kos di Bandung, lokasinya di sekitar
kampus Unpad-Adipati Ukur. Sekitaran kosan pasti mudah ditemui warung makan,
bila sebutan kita di Jakarta dinamakan warteg, maka di Bandung disebut kantin.
Jeruk bercerita ada sebuah kantin yang cukup terkenal, bukan karena penjualnya
yang cantik atau bentuk fisik kantin itu yang megah, tapi karena harga yang
murah ditambah rasa makanan yang enak.
Kantin tersebut awalnya adalah sebuah rumah biasa, namun
diubah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kantin. Ada ruang tamu yang
diubah menjadi ruang makan pelanggan, ruang tengah dibagi 2, sebelah untuk
kegiatan memasak beserta mencuci peralatan, sedangkan di sisi lain adalah
tempat beristirahat si Ibu, sang penjual. Jujur, saya tidak tahu pasti tempat
itu seperti apa, saya dapat menjabarkan bentuk rumah itu berdasarkan penjelasan
dari Jeruk, sebagai pelanggan tetap.
Suatu siang, Jeruk makan siang bersama seorang teman di
kantin itu. Saat sedang makan, datang seorang tukang pos membawa kotak
bingkisan. Ibu penjual yang diberi bingkisan bingung, “Sopo yo?” (siapa ya?
Red.) Ketika dibuka, isi bingkisan itu adalah terasi, beberapa jenis oleh-oleh
dari daerah Kalimantan, ditambah sepucuk surat. Isi surat itu yang menarik buat
saya, isi detailnya apa, saya tidak tahu, inti dari surat itu adalah ada
seorang anak mahsiswa yang sering makan di kantin si Ibu dan mengambil makanan
tapi tidak dihitung dan sekarang sudah bekerja di Kalimantan. Bingkisan itu
menjadi sebentuk permohonan maaf pada si Ibu.
Kenapa bisa nggak ikut dihitung? Sistem makan di kantin ini
adalah ambil-makan-bayar. Si Ibu akan menanyakan apa yang dimakan, pelanggan
akan menyebutkan lauk apa saja yang dimakan. Sekalipun harganya murah, masih
saja ada anak yang tidak jujur menjawab. Itu memang pencurian, tapi itulah
keadaan anak kos, tidak selalu ada uang, tidak selalu dapat kiriman tepat
waktu, atau tidak selalu dapat uang kiriman penuh.
Di waktu lain, si Ibu kedatangan tamu, seorang mahasiswa
yang sudah berhasil. Dia datang mengunjungi si Ibu, mengaku dosa, dan
memberikan hadiah sebagai ganti kenakalan yang pernah dia lakukan pada si Ibu
sewaktu menjadi mahasiswa. Si Ibu hanya tersenyum dan berkata, “ndak opo-opo,
sing penting kamu sudah kerja tho”. Respon yang manis dan ikhlas.
Rp 3,500,- yang bukan hanya menjadi makan siang murah di
saat persediaan uang tinggal sedikit di akhir bulan, tapi menjadi sebuah nilai
yang berarti, sebuah pelajaran dalam hidup untuk ikhlas. Dari Rp 3,500,- kita
bisa belajar untuk ikhlas akan semua hal, belajar untuk percaya pada orang
lain. Rp 3,500,- yang kita pikir sepele, ternyata mengajarkan kita elemen
kehidupan. Si Ibu yang “nerimo”, bukan berarti penjual yang tidak butuh uang,
tapi seorang ibu yang ikhlas menjalani hidupnya untuk berjualan makanan bagi
pelanggannya yang mayoritas anak mahasiswa.
Keikhlasan, positif thinking, “nerimo”, atau apapun itu
namanya buat hidup jadi ringan, bahkan berbuah manis. Seperti kata Jeruk-ku di
akhir ceritanya, “setiap orang yang pernah ngelakuin hal itu (nggak ngaku
jumlah makanannya, red) kalo udah berhasil, nggak akan lupa sama Ibu itu”
Terbukti, kiriman terasi dan oleh-oleh dari Kalimantan serta ucapan terimakasih,
pengakuan dosa, dan bingkisan adalah buah manis yang didapatkan si Ibu dari
keikhlasannya.
Keadaan para mahasiswa yang berbohong tentang jumlah
makanannya, itu memang sebuah kejahatan, pencurian, tapi dilihat dari sisi
lain, itu memang karena keadaan. Keadaan keuangan di akhir bulan yang sudah
tiris, jumlah uang kiriman yang pas-pasan, ataupun uang kiriman yang belum juga
sampai. Disini kita bisa belajar, setiap hal tidak hanya dapat dilihat dari 1
sisi saja, tapi ada sisi lain yang membuat kita belajar tentang makna
kehidupan. Belajar bahwa pencurian itu adalah kejahatan, tapi bukan berarti
selamanya kejahatan itu jahat. Seperti pengakuan anak mahasiswa berhasil yang
datang kembali ke Ibu kantin tadi, “Maaf, Bu, saya dulu sering makan makanan
ibu tapi nggak ngaku, bukan niat saya, Bu, tapi saya nggak punya uang waktu
itu” Klise, tapi itulah yang terjadi. Suatu hal tidak selamanya hitam atau
putih, terkadang kita bisa temukan banyak warna di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar