Gara-gara tadi siang
teman-teman kantor bingung mau makan dimana, saya jadi ingat cerita Jerukq
beberapa waktu yang lalu mengenai makanan. Bukan hanya siang ini, tapi banyak
siang-siang yang lain, saya mendengar celetukan dari teman saya, “makan dimana
nih kita?” Saya hanya tersenyum mendengarkan mereka sibuk berdiskusi tentang
tempat makan. Tapi saya sudah beberapa kali memperhatikan, di akhir bulan
diskusi itu akan semakin cepat usai, karena kesamaan kondisi : UANG MENIPIS!
Hehehe…menarik bukan untuk diperhatikan?
Di
awal-awal gajian, mereka akan sibuk mendiskusikan tempat makan mana yang mau
dikunjungi hari ini, bahkan ketika gajian jatuh di hari jumat, maka semua orang
akan berusaha pergi sejauh-jauhnya untuk makan siang sekaligus jalan-jalan
ataupun belanja. Saya tidak termasuk di dalamnya, karena saya lebih suka
membawa makanan dari rumah setiap hari. Buat saya, semakin banyak pilihan bukan
berarti semakin mempermudah saya dalam memilih, tapi bukan hal itu yang akan
saya bahas dalam tulisan ini.
Peristiwa
“royal” ketika baru gajian ini, sama seperti cerita Jerukq beberapa waktu yang
lalu saat bernostalgia tentang suasana kosan semasa kuliah dulu. Saat kuliah di
Bandung, Jerukq serta teman-temannya punya langganan tempat makan yang menjual
pecel, bukan pecel sayur, tapi pecel ayam atau pecel lele. Lokasi warung pecel
lele itu ada di sekitar kos-kosan, sehingga di malam hari cukup ramai di
datangi mahasiswa. Yang unik dari warung pecel ini adalah tersedianya pecel
telur. Pecel telur adalah telur dadar dengan campuran daun bawang dan diberi
sambal, sama seperti pecel lele atau pecel ayam, hanya lele dan ayamnya diganti
dengan telur dadar. Pecel telur sendiri ada pecel telur saja, atau paket pecel
telur lengkap. Pecel telur lengkap terdiri dari pecel telur ditambah irisan
kecil tahu dan tempe. Harga keduanya sama Rp 5,000,- ; Pecel ayam dan nasi dihargai
Rp 8,000,- dan pecel lele ditambah nasi dihargai Rp 7,000,-
Di awal
bulan, disaat mayoritas mahasiswa “gajian”, saat itu pula pesanan pecel ayam
meningkat, bahkan tidak jarang menu makan malam lengkap, nasi, pecel ayam,
ditambah soto ayam. Di minggu pertengahan, pesanan pecel ayam menurun, pesanan
pecel lele meningkat, pesanan soto ayam sudah lama hilang. Lama kelamaan,
pesanan pecel telur yang mendominasi warung pecel lele itu. Hanya, ada yang
unik dari Jerukq dan seorang teman. Ketika akhir bulan dan mereka memesan pecel
telur, ada taktik untuk bisa dapat ekstra sambal, berhubung si pemilik warung
tergolong orang yang pelit dalam dunia persambalan. Nasi yang dipesan 1 ½
porsi, ketika sisa 1/3 bagian, Jerukq kembali memesan tempe dan tahu goreng, dengan
pesan-pesan “pake sambel ya, Pak”.
Terlihat
miris sekaligus lucu buat saya. Miris karena ternyata jadi anak kos itu
perjuangan, dalam hal makan aja butuh pengaturan dan perencanaan keuangan yang
baik, belum lagi di hal-hal yang lain. Lucu karena menyadari, hampir semua
manusia membentuk pola dalam kehidupannya, pola yang sama ataupun berbeda satu
sama lain. Saya menyadari pepatah “hidup itu seperti roda, kadang di atas, kadang
di bawah” bukan hanya dalam hal-hal besar saja, tapi juga hal-hal kecil, bukan
hanya dalam pendidikan, pekerjaan, pernikahan, ataupun rejeki, tapi juga dalam
hal makan. Terkadang orang bisa makan enak saat punya uang, terkadang makanan
yang biasa saja, bahkan tidak menutup kemungkinan makan makanan kurang enak,
yang penting perut terisi dan tidak sakit.
Pola
pecel ayam (+ soto) – pecel lele – pecel telur mengajarkan pada saya bahwa
hidup itu dinamis, selalu ada perubahan dalam kehidupan, hidup selalu bergerak.
Hidup itu roda, terkadang ada di atas, terkadang ada di bawah. Terkadang bisa
beli yang mahal, terkadang pula harus puas dengan barang yang murah. Saya juga
belajar, bagaimana kita seharusnya bisa ikut dinamis bersama kehidupan, dinamis
mengikuti perubahan hidup untuk bisa tetap eksis. Bersiap-siap untuk turun
ketika ada di atas dan bersiap-siap untuk naik ketika berada di bawah.
Mempersiapkan diri untuk dapat menyesuaikan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar